Perlawanan terhadap VOC
Perlawanan Terhadap VOC
KATA PENGANTAR
Segala
puji bagi Tuhan yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini dengan
penuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin penyusun tidak akan sanggup
menyelesaikan dengan baik.
Artikel ini
disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Prlwanan Terhaap VOC,yang kami sajikan
berdasarkan pengamatan dari berbagai sumber.Artikel ini di susun oleh penyusun
dengan berbagai rintangan.Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang
datang dari luar.Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari
Tuhan akhirnya artikel ini dapat terselesaikan.
Semoga artikel
ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.Walaupun artikel ini memiliki kelebihan dan
kekurangan. Penyusun mohon untuk saran dan kritiknya. Terima kasih.
Tengaran,10 november 2015
(Penyusun )
A. Aceh vs Portugis
oleh : nurul prasetyo
Dahulu kala
tepatnya di Aceh (1523) Portugis melancarkan serangan ke Aceh
di bawah pimpinan Henrigues, dan menyusul pada tahun 1524 dipimpin oleh de
Sauza. Pada tahun 1629 tokoh dari Aceh Iskandar Muda melancarkan serangan ke
Malaka dan melakukan upaya perlawanan seperti : Melengkapi kapal-kapal dagang
Aceh dengan persenjataan, meriam dan prajurit, Mendatangkan
bantuan persenjataan, sejumlah tentara dan beberapa ahli dari Turki pada
tahun(1567), Mendatangkan bantuan persenjataan dari Kalikut dan Jepara.
Penyebab utama Aceh melakukan perlawanan ini karena pada tahun 1511 Malaka
jatuh ke tangan Portugis, banyak para pedagang Islam yang menyingkir dari
Malaka menuju ke Aceh. Dengan demikian perdagangan di Aceh semakin ramai
sehingga menjadi bandar dan pusat perdagangan. ini merupakan ancaman bagi
Portugis yang kemudian berencana menghancurkan Aceh. Nasib Akhir perlawanan
Aceh yaitu pada tahun 1641 Malaka jatuh ke tangan VOC.
B. Maluku Angkat Senjata
oleh : nurul prasetyo
Portugis berhasil memasuki Kepulauan Maluku pada tahun 1521. Mereka
memusatkan aktivitasnya di Ternate. Tidak lama berselang orangorang
Spanyol juga memasuki Kepulauan Maluku dengan memusatkan kedudukannya di
Tidore. Terjadilah persaingan antara kedua belah pihak. Persaingan itu
semakin tajam setelah Portugis berhasil menjalin persekutuan dengan
Ternate dan Spanyol bersahabat dengan Tidore. Pada tahun 1529 terjadi
perang antara Tidore melawan Portugis. Penyebab perang ini karena
kapal-kapal Portugis menembaki jung-jung dari Banda yang akan membeli
cengkih ke Tidore. Tentu saja Tidore tidak dapat menerima tindakan
armada Portugis. Rakyat Tidore angkat senjata. Terjadilah perang antara
Tidore melawan Portugis. Dalam perang ini Portugis mendapat dukungan
dari Ternate dan Bacan. Akhirnya Portugis mendapat kemenangan.
Dengan kemenangan ini Portugis menjadi semakin sombong dan sering
berlaku kasar terhadap penduduk Maluku. Upaya monopoli terus dilakukan.
Maka, wajar jika sering terjadi letupan-letupan perlawanan rakyat.
Sementara itu untuk menyelesaikan persaingan antara Portugis dan Spanyol
dilaksanakan perjanjian damai, yakni Perjanjian Saragosa pada tahun
1534. Dengan adanya Perjanjian Saragosa kedudukan Portugis di Maluku
semakin kuat. Portugis semakin berkuasa untuk memaksakan kehendaknya
melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku. Kedudukan
Portugis juga semakin mengganggu kedaulatan kerajaan-kerajaan yang ada
di Maluku. Pada tahun 1565 muncul perlawanan rakyat Ternate di bawah
pimpinan Sultan Khaerun/Hairun. Sultan Khaerun menyerukan seluruh rakyat
dari Irian/Papua sampai Jawa untuk angkat senjata melawan kezaliman
kolonial Portugis. Portugis mulai kewalahan dan menawarkan perundingan
kepada Sultan Khaerun. Dengan pertimbangan kemanusiaan, Sultan Khaerun
menerima ajakan Portugis Perundingan dilaksanakan pada tahun 1570
bertempat di Benteng Sao Paolo. Ternyata semua ini hanyalah tipu
muslihat Portugis. Pada saat perundingan sedang berlangsung, Sultan
Khaerun ditangkap dan dibunuh. Apa yang dilakukan Portugis kala itu
sungguh kejam dan tidak mengenal perikemanusiaan. Demi keuntungan
ekonomi Portugis telah merusak sendi-sendi kehidupan kemanusiaan dan
keberagamaan.
Setelah Sultan Khaerun dibunuh, perlawanan dilanjutkan di bawah pimpinan
Sultan Baabullah (putera Sultan Khaerun). Melihat tindakan Portugis
yang tidak mengenal nilai-nilai kemanusiaan, semangat rakyat Maluku
untuk melawannya semakin berkobar. Seluruh rakyat Maluku berhasil
dipersatukan termasuk Ternate dan Tidore untuk melancarkan serangan
besar-besaran terhadap Portugis. Akhirnya Portugis dapat didesak dan
pada tahun 1575 berhasil diusir dari Ternate. Orang-orang Portugis
kemudian melarikan diri dan menetap di Ambon sampai tahun 1605. Tahun
itu Portugis dapat diusir oleh VOC dari Ambon dan kemudian menetap di
Timor Timur.
Serangkaian rakyat terus terjadi terhadap Portugis maupun VOC yang
melakukan tindakan kejam dan sewenang-wenang kepada rakyat. Misalnya
pada periode tahun 1635-1646 terjadi serangan sporadis dari rakyat Hitu
yang dipimpin oleh Kakiali dan Telukabesi. Perlawanan rakyat ini juga
meluas ke Ambon. Tahun 1650 perlawanan rakyat juga terjadi di Ternate
yang dipimpin oleh Kecili Said. Sementara perlawanan secara gerilya
terjadi seperti di Jailolo. Namun berbagai serangan itu selalu dapat
dipatahkan oleh kekuatan VOC yang memiliki peralatan senjata lebih
lengkap. Rakyat terus mengalami penderitaan akibat kebijakan monopoli
rempah-rempah yang disertai dengan Pelayaran Hongi.
Pada tahun 1680, VOC memaksakan sebuah perjanjian baru dengan penguasa
Tidore. Kerajaan Tidore yang semula sebagai sekutu turun statusnya
menjadi vassal VOC, dan sebagai penguasa yang baru diangkatlah Putra
Alam sebagai Sultan Tidore (menurut tradisi kerajaan Tidore yang berhak
sebagai sultan semestinya adalah Pangeran Nuku). Penempatan Tidore
sebagai vassal atau daerah kekuasaan VOC telah menimbulkan protes keras
dari Pangeran Nuku. Akhirnya Nuku memimpin perlawanan rakyat. Timbullah
perang hebat antara rakyat Maluku di bawah pimpinan Pangeran Nuku
melawan kekuatan kompeni Belanda (tentara VOC). Sultan Nuku mendapat
dukungan rakyat Papua di bawah pimpinan Raja Ampat dan juga orang-orang
Gamrange dari Halmahera. Oleh para pengikutnya, Pangeran Nuku diangkat
sebagai sultan dengan gelar Tuan Sultan Amir Muhammad Syafiudin Syah.
Sultan Nuku juga berhasil meyakinkan Sultan Aharal dan Pangeran Ibrahim
dari Ternate untuk bersama-sama melawan VOC. Bahkan dalam perlawanan ini
Inggris juga member dukungan terhadap Sultan Nuku. Belanda kewalahan
dan tidak mampu membendung ambisi Nuku untuk lepas dari dominasi
Belanda. Sultan Nuku berhasil mengembangkan pemerintahan yang berdaulat
melepaskan diri dari dominasi Belanda di Tidore sampai akhir hayatnya
(tahun 1805)
C. Sultan Agung vs J.P Coen
oleh : agung kurniawan
Mataram
mencapai zaman keemasan. Cita-cita Sultan Agung antara lain: (1)
mempersatukan seluruh tanah Jawa,dan (2) mengusir kekuasaan asing dari
bumi Nusantara. Terkait dengan cita-citanya ini maka Sultan Agung sangat
menentang keberadaan kekuatan VOC di Jawa. Apalagi tindakan VOC yang
terus memaksakan kehendak untuk melakukan monopoli perdagangan membuat
para pedagang Pribumi mengalami kemunduran. Kebijakan monopoli itu juga
dapat membawa penderitaan rakyat. Oleh karena itu, Sultan Agung
merencanakan serangan ke Batavia. Ada beberapa alasan mengapa Sultan
Agung merencanakan serangan ke Batavia, yakni:
Pada Tahun 1619 tepatnya di Banten,
terjadi persaingan antara Banten dan Batavia. Penyebab utamanya ialah karena
Banten memiliki posisi yang strategis sebagai Bandar perdagangan internasional,
oleh karena iu, Belanda selalu ingin menguasainya tetapi tidak pernah berhasil,
akhirnya VOC membangun Bandar di Batavia (1619). Lalu terjadilah persaingan
memperebutkankan posisi sebagai Bandar perdagangan inetrnasional anatara Banten
dan Batavia. Kemudian Pangeran Surya (Sultan Abu Al-fath Sultan ageng
Tirtayasa) melakukan perlawanan seperti: melakukan perusakan terhadap beberapa
kebun tanaman VOC, mrndirikan benteng-benteng pertahanan (seperti benteng
Noordwije). Nasib akhir dari upaya
perlawanan yaitu pasukan Francois tak berhasil mendesak dan memukul mundur
Sultan Ageng Tirtayasa sampai ke bentengnya, kemudian Sultan Ageng tirtayasa
lari bersama anaknya (Pangeran Purbaya) ke hutan Lebak-lalu ke bogor, baru
setelah melalui tipu muslihat (1683) Sultan Ageng Tirtayasa dapat ditangkpa dan
ditawan oleh Batavia sampai meninggal (1692)

- tindakan monopoli yang dilakukan VOC,
- VOC sering menghalang-halangi kapal-kapal dagang Mataram yang akan berdagang ke Malaka,
- VOC menolak untuk mengakui kedaulatan Mataram, dan
- keberadaan VOC di Batavia telah memberikan ancaman serius bagi masa depan Pulau Jawa.
Pada tahun 1628 telah dipersiapkan pasukan dengan segenap persenjataan
dan perbekalan. Pada waktu itu yang menjadi gubernur jenderal VOC adalah
J.P. Coen. Sebagai pimpinan pasukan Mataram adalah Tumenggung Baureksa.
Tepat pada tanggal 22 Agustus 1628, pasukan Mataram di bawah pimpinan
Tumenggung Baureksa menyerang Batavia. Pasukan Mataram berusaha
membangun pos pertahanan, tetapi kompeni VOC berusaha
menghalang-halangi, sehingga pertempuran antara kedua pihak tidak dapat
dihindarkan. Di tengah-tengah berkecamuknya peperangan itu pasukan
Mataram yang lain berdatangan seperti pasukan di bawah Sura Agul-Agul
yang dibantu oleh Kiai Dipati Mandurareja dan Upa Santa. Datang pula
laskar orang-orang Sunda di bawah pimpinan Dipati Ukur. Pasukan Mataram
berusaha mengepung Batavia dari berbagai tempat. Terjadilah pertempuran
sengit antara pasukan Mataram melawan tentara VOC di berbagai tempat.
Tetapi kekuatan tentara VOC dengan senjatanya jauh lebih unggul,
sehingga dapat memukul mundur semua lini kekuatan pasukan Mataram.
Tumenggung Baureksa sendiri gugur dalam pertempuran itu. Dengan demikian
serangan tentara Sultan Agung pada tahun 1628 itu belum berhasil.
Sultan Agung tidak lantas berhenti dengan kekalahan yang baru saja
dialami pasukannya. Ia segera mempersiapkan serangan yang kedua. Belajar
dari kekalahan terdahulu Sultan Agung meningkatkan jumlah kapal dan
senjata, Ia juga membangun lumbung-lumbung beras untuk persediaan bahan
makanan seperti di Tegal dan Cirebon. Tahun 1629 pasukan Mataram
diberangkatkan menuju Batavia. Sebagai pimpinan pasukan Mataram
dipercayakan kepada Tumenggung Singaranu, Kiai Dipati Juminah, dan
Dipati Purbaya. Ternyata informasi persiapan pasukan Mataram diketahui
oleh VOC. Dengan segera VOC mengirim kapal-kapal perang untuk
menghancurkan lumbung-lumbung yang dipersiapkan pasukan Mataram. Di
Tegal tentara VOC berhasil menghancurkan 200 kapal Mataram, 400 rumah
penduduk dan sebuah lumbung beras. Pasukan Mataram pantang mundur,
dengan kekuatan pasukan yang ada terus berusaha mengepung Batavia.
Pasukan Mataram berhasil mengepung dan menghancurkan Benteng Hollandia.
Berikutnya pasukan Mataram mengepung Benteng Bommel, tetapi gagal
menghancurkan benteng tersebut. Pada saat pengepungan Benteng Bommel,
terpetik berita bahwa J.P. Coen meninggal. Peristiwa ini terjadi pada
tanggal 21 September 1629. Dengan semangat juang yang tinggi pasukan
Mataram terus melakukan penyerangan. Dalam situasi yang kritis ini
pasukan Belanda semakin marah dan meningkatkan kekuatannya untuk
mengusir pasukan Mataram. Dengan mengandalkan persenjataan yang lebih
baik dan lengkap, akhirnya dapat menghentikan serangan-serangan pasukan
Mataram. Pasukan Mataram semakin melemah dan akhirnya ditarik mundur
kembali ke Mataram. Dengan demikian serangan Sultan Agung yang kedua ini
juga mengalami kegagalan. Dengan kegagalan pasukan Mataram menyerang
Batavia, membuat VOC semakin berambisi untuk terus memaksakan monopoli
dan memperluas pengaruhnya di daerah-daerah lain. Namun di balik itu VOC
selalu khawatir dengan kekuatan tentara Mataram. Tentara VOC selalu
berjaga-jaga untuk mengawasi gerak-gerik pasukan Mataram. Sebagai contoh
pada waktu pasukan Sultan Agung dikirim ke Palembang untuk membantu
Raja Palembang dalam melawan VOC, langsung diserang oleh tentara VOC di
tengah perjalanan.Perlawanan pasukan Sultan Agung terhadap VOC memang
mengalami kegagalan. Tetapi semangat dan cita-cita untuk melawan
dominasi asing di Nusantara terus tertanam pada jiwa Sultan Agung dan
para pengikutnya. Sayangnya semangat ini tidak diwarisi oleh raja-raja
pengganti Sultan Agung. Setelah Sultan Agung meninggal tahun 1645,
Mataram menjadi semakin lemah sehingga akhirnya berhasil dikendalikan
oleh VOC.
D. Perlawanan Banten
oleh : agung kurniawan
E. Perlawanan Goa
oleh : ircham pambudi
Pelabuhan Somba Opu memiliki posisi yang strategis dalam jalur
perdagangan internasional. Pelabuhan Somba Opu telah berperan sebagai
Bandar perdagangan tempat persinggahan kapal-kapal dagang dari timur ke
barat atau sebaliknya. Sebagai contoh kapal-kapal pengangkut
rempah-rempah dari Maluku yang berangkat ke Malaka sebelumnya akan
singgah dulu di Bandar Somba Opu. Begitu juga barang dagangan dari barat
yang akan masuk ke Maluku juga melakukan bongkar muat di Somba Opu.
Dengan melihat peran dan posisinya yang strategis, VOC berusaha keras
untuk dapat mengendalikan Gowa dan menguasai pelabuhan Somba Opu serta
menerapkan monopoli perdagangan. Untuk itu VOC harus dapat menundukkan
Kerajaan Gowa. Berbagai upaya untuk melemahkan posisi Gowa terus
dilakukan. Sebagai contoh, pada tahun 1634, VOC melakukan blockade
terhadap Pelabuhan Somba Opu, tetapi gagal karena perahu-perahu Makasar
yang berukuran kecil lebih lincah dan mudah bergerak di antara
pulau-pulau, yang ada. Kemudian kapal-kapal VOC merusak dan menangkap
kapal-kapal pribumi maupun kapal-kapal asing lainnya. Raja Goa, Sultan
Hasanuddin ingin menghentikan tidakan VOC yang anarkis dan provokatif
itu. Sultan Hasanuddin menentang ambisi VOC yang memaksakan monopoli di
Goa. Seluruh kekuatan dipersiapkan untuk menghadapi VOC. Beberapa
benteng pertahanan mulai dipersiapkan di sepanjang pantai. Beberapa
sekutu Gowa mulai dikoordinasikan. Semua dipersiapkan untuk melawan
kesewenangwenangan VOC. Sementara itu VOC juga mempersiapkan diri untuk
menundukkan Gowa. Politik devide et impera mulai dilancarkan.
Misalnya VOC menjalin hubungan dengan seorang Pangeran Bugis dari Bone
yang bernama Aru Palaka. VOC begitu bernafsu untuk segera dapat
mengendalikan kekuasaan di Gowa. Oleh karena itu, pimpinan VOC, Gubernur
Jenderal Maetsuyker memutuskan untuk menyerang Gowa. Dikirimlah pasukan
ekspedisi yang berkekuatan 21 kapal dengan mengangkut 600 orang
tentara. Mereka terdiri atas tentara VOC, orang-orang Ambon dan juga
orang-orang Bugis di bawah Aru Palaka. Tanggal 7 Juli 1667, meletus
Perang Gowa. Tentara VOC dipimpin oleh Cornelis Janszoon Spelman,
diperkuat oleh pengikut Aru Palaka dan ditambah orang-orang Ambon di
bawah pimpinan Jonker van Manipa. Kekuatan VOC ini menyerang pasukan Goa
dari berbagai penjuru. Beberapa serangan VOC berhasil ditahan pasukan
Hasanuddin. Tetapi dengan pasukan gabungan disertai peralatan senjata
yang lebih lengkap, VOC berhasil mendesak pasukan Hasanuddin. Benteng
pertahanan tentara Gowa di Barombang dapat diduduki oleh pasukan Aru
Palaka. Hal ini menandai kemenangan pihak VOC atas kerajaan Gowa.
Hasanuddin kemudian dipaksa untuk menandatangani
Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667, yang isinya antara lain sebagai berikut.
- Gowa harus mengakui hak monopoli VOC
- Semua orang Barat, kecuali Belanda harus meninggalkan wilayah Goa
- Gowa harus membayar biaya perang
Sultan Hasanuddin tidak ingin melaksanakan isi perjanjian itu, karena
isi perjanjian itu bertentangan dengan hati nurani dan semboyan
masyarakat Gowa atau Makassar. Pada tahun 1668 Sultan Hasanuddin mencoba
menggerakkan kekuatan rakyat untuk kembali melawan kesewenang-wenangan
VOC itu. Namun perlawanan ini segera dapat dipadamkan oleh VOC. Dengan
sangat terpaksa Sultan Hasanuddin harus melaksanakan isi Perjanjian
Bongaya. Bahkan benteng pertahanan rakyat Gowa jatuh dan diserahkan
kepada VOC. Benteng itu kemudian oleh Spelman diberi nama Benteng
Rotterdam.
F. Rakyat Riau Angkat Senjata
oleh : ircham pambudi
Perlawanan Rakyat Riau Terhadap VOC Ambisi untuk melakukan
monopoli perdagangan dan menguasai berbagai daerah di Nusantara terus
dilakukan oleh VOC. Di samping menguasai Malaka, VOC juga mulai
mengincar Kepulauan Riau. Dengan politik memecah belah VOC mulai
berhasil menanamkan pengaruhnya di Riau. Kerajaankerajaan kecil seperti
Siak, Indragiri, Rokan, dan Kampar semakin terdesak oleh pemaksaan
monopoli dan tindakan sewenang-wenang dari VOC. Oleh karena itu,
beberapa kerajaaan mulai melancarkan perlawanan. Salah satu contoh
perlawanan di Riau adalah perlawanan yang dilancarkan oleh Kerajaan Siak
Sri Indrapura. Raja Siak Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah (1723 – 1744)
memimpin rakyatnya untuk melawan VOC. Setelah berhasil merebut Johor
kemudian ia membuat benteng pertahanan di Pulau Bintan.
Dari pertahanan di Pulau Bintan ini pasukan Sultan Abdul Jalil mengirim
pasukan di bawah komando Raja Lela Muda untuk menyerang Malaka. Uniknya
dalam pertempuran ini Raja Lela Muda selalu mengikutsertakan puteranya
yang bernama Raja Indra Pahlawan. Itulah sebabnya sejak remaja Raja
Indra Pahlawan sudah memiliki kepandaian berperang. Sifaf bela negara/
tanah air sudah mulai tertanam pada diri Raja Indra Pahlawan.
Dalam suasana konfrontasi dengan VOC itu, Sultan Abdul Jalil Rahmat Syah
wafat. Sebagai gantinya diangkatlah puteranya yang bernama Muhammad
Abdul Jalil Muzafar Syah (1746 -1760). Raja ini juga memiliki naluri
seperti ayahandanya yang ingin selalu memerangi VOC di Malaka dan
sebagai komandan perangnya adalah Raja Indra Pahlawan. Tahun 1751
berkobar perang melawan VOC. Sebagai strategi menghadapi serangan Raja
Siak, VOC berusaha memutus jalur perdagangan menuju Siak. VOC mendirikan
benteng pertahanan di sepanjang jalur yang menghubungkan Sungai
Indragiri, Kampar, sampai Pulau Guntung yang berada di muara Sungai
Siak. Kapal-kapal dagang yang akan menuju Siak ditahan oleh VOC. Hal ini
merupakan pukulan bagi Siak. Oleh karena itu segera dipersiapkan
kekuatan yang lebih besar untuk menyerang VOC. Sebagai pucuk pimpinan
pasukan dipercayakan kembali kepada Raja Indra dan Panglima Besar Tengku
Muhammad Ali. Dalam serangan ini diperkuat dengan kapal perang “Harimau
Buas” yang dilengkapi dengan lancang serta perlengkapan perang
secukupnya. Terjadilah pertempuran sengit di Pulau Guntung (1752 –
1753).
Ternyata benteng VOC di Pulau Guntung itu berlapis-lapis dan dilengkapi
meriam-meriam besar. Dengan demikian pasukan Siak sulit menembus benteng
pertahanan itu. Namun banyak pula jatuh korban dari VOC, sehingga VOC
harus mendatangkan bantuan kekuatan termasuk juga orang-orang Cina.
Pertempuran hampir berlangsung satu bulan. Sementara VOC terus
mendatangkan bantuan. Melihat situasi yang demikian itu kedua panglima
perang Siak menyerukan pasukannya untuk mundur kembali ke Siak. Sultan
Siak bersama para panglima dan penasihat mengatur siasat baru.
Disepakati bahwa VOC harus dilawan dengan tipu daya. Sultan diminta
berpura-pura berdamai dengan cara memberikan hadiah kepada Belanda. Oleh
karena itu, siasat ini dikenal dengan “siasat hadiah sultan”. VOC
setuju dengan ajakan damai ini. Perundingan damai diadakan di loji di
Pulau Guntung. Pada saat perundingan baru mulai justru Sultan Siak
dipaksa untuk tunduk kepada pemerintahah VOC. Sultan segera memberi kode
pada anak buah dan segera menyergap dan membunuh orang-orang Belanda di
loji itu. Loji segera dibakar dan rombongan Sultan Siak kembali ke Siak
dengan membawa kemenangan, sekalipun belum berhasil mengenyahkan VOC
dari Malaka. Siasat perang ini tidak terlepas dari jasa Raja Indra
Pahlawan. Oleh karena itu, atas jasanya Raja Indra Pahlawan diangkat
sebagai Panglima Besar Kesultanan Siak dengan gelar: “Panglima Perang
Raja Indra Pahlawan Datuk Lima Puluh”.
G. Orang Orang Cina Berontak
oleh : m aris gunawan
Pada tahun 1740 tepatnya di Batavia
terjadi perlawan antara orang-orang cina dengan VOC.
Penyebab utamanya ialah karena terjadi kebakaran di Batavia.
VOC
menafsirkan peristiwa ini sebagai gerakan orang-orang Cina yang akan melakukan
pemberontakan. Oleh karena itu, para serdadu VOC mulai beraksi dengan melakukan
sweeping memasuki rumah-rumah orang Cina dan kemudian melakukan pembunuhan
terhadap orang-orang Cina yang ditemukan di setiap rumah. Sementara yang berhasil meloloskan diri dan melakukan
perlawanan di berbagai daerah, misalnya di Jawa Tengah. Salah satu tokohnya
yang terkenal adalah Oey Panko atau kemudian dikenal dengan sebutan Khe
Panjang,kemudian upaya perlawanan yang dilakukan orang-orang cina ialah
melakukan pemberotakan. Nasib akhir perlawanan adalah pemberotakan orang-orang
cina satu persatu dapat dipadamkan, artinya orang-orang cina dapat dikalahkan
oleh VOC dan VOC mengalami kemenangan.
H. Perlawanan Raden Mas
oleh : m aris gunawan
Pangeran Mangkubumi dan Mas Said Melawan VOC Perlawan
terhadap VOC kembali terjadi di Jawa, kali ini dipimpin oleh bangsawan
kerajaan yakni Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said. Perlawanan
berlangsung sekitar 20 tahun. Pada uraian terdahulu sudah disinggung
bahwa beberapa raja Mataram setelah Sultan Agung merupakan raja yang
lemah bahkan bersahabat dengan kaum penjajah. Begitu juga pada saat
pemerintahan Pakubuwana II terjadi persahabatan dengan VOC. Bahkan VOC
semakin berani untuk menekan dan melakukan intervensi terhadap jalannya
pemerintahan Pakubuwana II. Wilayah pengaruh Kerajaan Mataram juga
semakin berkurang. Persahabatan antara Pakubuwana II dengan VOC ini
telah menimbulkan kekecewaan para bangsawan kerajaan, apalagi VOC
melakukan intervensi dalam urusan pemerintahan kerajaan. Hal ini
mendorong munculnya berbagai perlawanan misalnya perlawanan Raden Mas
Said.
Raden Mas Said adalah putera dari Raden Mas Riya yang bergelar Adipati
Arya Mangkunegara dengan Raden Ayu Wulan putri dari Adipati Blitar. Pada
usia 14 tahun Raden Mas Said sudah diangkat sebagai gandek kraton
(pegawai rendahan di istana) dan diberi gelar R.M.Ng. Suryokusumo.
Karena merasa sudah berpengalaman, Raden Mas Said kemudian mengajukan
permohonan untuk mendapatkan kenaikan pangkat. Akibat permohonan ini Mas
Said justru mendapat cercaan dan hinaan dari keluarga kepatihan, bahkan
dikaitkaitkan dengan tuduhan ikut membantu pemberontakan orang-orang
Cina yang sedang berlangsung. Mas Said merasa sakit hati dengan sikap
keluarga kepatihan. Muncullah niat untuk melakukan perlawanan terhadap
VOC yang telah membuat kerajaan kacau karena banyak kaum bangsawan yang
bersekutu dengan VOC. Ia diikuti R. Sutawijaya dan Suradiwangsa (yang
kemudian dikenal dengan Kiai Kudanawarsa) pergi keluar kota untuk
menyusun kekuatan. Kemudian Mas Said pergi menuju Nglaroh untuk memulai
perlawanan. Oleh para pengikutnya Mas Said diangkat sebagai raja baru
dengan gelar Pangeran Adipati Anom Hamengku Negara Senopati Sudibyaning
Prang. Hingga kini sebutan Mas Said yang sangat dikenal masyarakat yakni
Pangeran Sambernyawa. Perlawanan Mas Said ternyata cukup kuat karena
mendapat dukungan dari masyarakat dan ini merupakan ancaman yang serius
bagi eksistensi Pakubuwana II sebagai raja di Mataram.
Oleh karena itu, pada tahun 1745 Pakubuwana II mengumumkan barang siapa
yang dapat memadamkan perlawanan Mas Said akan diberi hadiah sebidang
tanah di Sukowati (di wilayah Sragen sekarang). Mas Said tidak
menghiraukan apa yang dilakukan Pakubuwana II di istana, ia terus
melancarkan perlawanan kepada kerajaan maupun VOC. Mendengar adanya
sayembara berhadiah itu, Pangeran Mangkubumi ingin mencoba sekaligus
menakar seberapa jauh komitmen dan kejujuran Pakubuwana II. Pangeran
Mangkubumi adalah adik dari Pakubuwana II. Pangeran Mangkubumi dan para
pengikutnya berhasil memadamkan perlawanan Mas Said. Ternyata Pakubuwana
II ingkar janji. Pakubuwana II kehilangan nilai dan komitmennya sebagai
raja yang berpegang pada tradisi, sabda pandhita ratu datan kena
wola-wali (perkataan raja tidak boleh ingkar). Karena bujukan Patih
Pringgalaya, Pakubuwana II tidak memberikan tanah Sukowati kepada
Pangeran Mangkubumi. Terjadilah pertentangan antara Raja Pakubuwana II
yang didukung Patih Pringgalaya di satu pihak dengan Pangeran Mangkubumi
di pihak lain. Dalam suasana konflik ini tiba-tiba dalam pertemuan
terbuka di istana itu Gubernur Jenderal Van Imhoff mengeluarkan
kata-kata yang menghina dan menuduh Pangeran Mangkubumi terlalu ambisi
mencari kekuasaan. Hal inilah yang sangat mengecewakan Pangeran
Mangkubumi, pejabat VOC secara langsung telah mencampuri urusan
pemerintahan kerajaan. Pangeran Mangkubumi segera meninggalkan istana.
Tidak ada pilihan lain kecuali angkat senjata untuk melawan VOC yang
telah semena-mena ikut campur tangan pemerintahan kerajaan. Hal ini
sekaligus untuk memperingatkan saudara tuanya Pakubuwana II agar tidak
mau didikte oleh VOC. Pangeran Mangkubumi dan pengikutnya pertama kali
pergi ke Sukowati untuk menemui Mas Said. Kedua pihak bersepakat untuk
bersatu melawan VOC. Untuk memperkokoh persekutuan ini, Raden Mas Said
dijadikan menantu oleh Pangeran Mangkubumi. Mangkubumi dan Mas Said
sepakat untuk membagi wilayah perjuangan. Raden Mas Said bergerak di
bagian timur, daerah Surakarta ke selatan terus ke Madiun, Ponorogo
dengan pusatnya Sukowati. Sedangkan Mangkubumi konsentrasi di bagian
barat Surakarta terus ke barat dengan pusat di Hutan Beringin dan Desa
Pacetokan, dekat Pleret (termasuk daerah Yogyakarta sekarang).
Diberitakan pada saat itu Pangeran Mangkubumi membawahi sejumlah 13.000
prajurit, termasuk 2.500 prajurit kavaleri.
Karena perjanjian itu berisi pasal-pasal antara lain
- Susuhunan Pakubuwana II menyerahkan Kerajaan Mataram baik secara de facto maupun de jure kepada VOC
- Hanya keturunan Pakubuwana II yang berhak naik tahta, dan akan dinobatkan oleh VOC menjadi raja Mataram dengan tanah Mataram sebagai pinjaman dari VOC.
- Putera mahkota akan segera dinobatkan. Sembilan hari setelah penandatanganan perjanjian itu Pakubuwana II wafat. Tanggal 15 Desember 1749 Baron van Hohendorff mengumumkan pengangkatan putera mahkota sebagai Susuhunan Pakubuwana III.
Perjanjian tersebut merupakan sebuah tragedi karena Kerajaan Mataram
yang pernah berjaya di masa Sultan Agung harus menyerahkan kedaulatan
atas seluruh wilayah kerajaan kepada pihak asing. Hal ini semakin
membuat kekecewaan Pangeran Mangkubumi dan Mas Said, sehingga keduanya
harus meningkatkan perlawanannya terhadap kezaliman VOC. Perlawanan
Pangeran Mangkubumi berakhir setelah tercapai Perjanjian Giyanti pada
tanggal 13 Februari 1755. Isi pokok perjanjian itu adalah bahwa Mataram
dibagi dua. Wilayah bagian barat (daerah Yogyakarta) diberikan kepada
Pangeran Mangkubumi dan berkuasa sebagai sultan dengan sebutan Sri
Sultan Hamengkubuwana I, sedang bagian timur (daerah Surakarta) tetap
diperintah oleh Pakubuwana III. Sementara perlawanan Mas Said berakhir
setelah tercapai Perjanjian Salatiga pada tanggal 17 Maret 1757 yang
isinya Mas Said diangkat sebagai penguasa di sebagian wilayah Surakarta
dengan gelar Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I.
Trimakasih atas kunjungan anda semoga tulisan yang telah kami buat bernabfaat bagi kalian semua.
untuk melihat Perang Melawan Penjajahan Kolonial Hindia-Belanda klik link berikut
http://nurulprasetyo820.blogspot.co.id/2015/11/perang-melawan-penjajahan-kolonial.htmluntuk melihat Perang Melawan Penjajahan Kolonial Hindia-Belanda klik link berikut
Komentar
Posting Komentar