Pemanfaatan Energi
Pemanfaatan Energi Matahari
A.
Pemanasan ruangan
Ada beberapa teknik penggunan energi panas matahari
untuk pemanasan ruangan, yaitu:
1.
Jendela
Ini
merupakan teknik pemanasan dengan menggunakan energi panas matahari yang paling
sederhana. Hanya diperlukan sebuah lubang pada dinding untuk meneruskan panas
matahari dari luar masuk ke dalam bangunan. Ada jendela yang langsung tanpa ada
kacanya dan ada yang menggunakan kaca. Untuk mendapatkan panas yang optimal
maka pada jendela dipasang kaca ganda. Biasanya di daerah-daerah empat musim
dinding/tembok bangunan diganti dengan kaca agar matahari bebas menyinari dan
menghangatkan ruangan pada saat musim dingin.
2.
Dinding Trombe(Trombe Wall)
Dinding
trombe adalah dinding yang diluarnya terdapat ruangan sempit berisi udara.
Dinding bagian luar dari ruangan sempit tersebut biasanya berupa kaca. Dinding
ini dinamai berdasarkan nama penemunya yaitu Felix Trombe, orang berkebangsaan
Perancis. Prinsip kerjanya adalah permukaan luar ruangan ini akan dipanasi oleh
sinar matahari, kemudian panas tersebut perlahan-lahan dipindahkan kedalam
ruangan sempit. Selanjutnya panas di dalam ruangan sempit tersebut akan
dikonveksikan ke dalam bangunan melalui saluran udara pada dinding trombe.
3. Greenhouse
Teknik ini
hampir sama dengan dinding trombe hanya saja jarak antara dinding masif dengan
kaca lebih lebar, sehingga tanaman bisa hidup di dalamnya. Prinsip
kerja greenhouse juga serupa dengan dinding trombe. Panas masuk
melalui kaca ke dalam greenhouse lalu dikonveksikan ke dalam bangunan
untuk menghangatkan ruangan atau menjaga suhu rungan tetap stabil meskipun pada
waktu siang atau malam hari.
4. Penerangan ruangan
Adalah
teknik pemanfaatan energi matahari yang banyak dipakai saat ini. Dengan teknik
ini pada siang hari lampu pada bangunan tidak perlu dinyalakan sehingga
menghemat penggunaan listrik untuk penerangan. Teknik ini dilaksanakan dengan
mendesain bangunan yang memungkinkan cahaya matahari bisa masuk dan menerangi
ruangan dalam bangunan.
5. Kompor matahari
Prinsip
kerja dari kompor matahari adalah dengan memfokuskan panas yang diterima dari
matahari pada suatu titik menggunakan sebuah cermin cekung besar sehingga
didapatkan panas yang besar yang dapat digunakan untuk menggantikan panas dari
kompor minyak atau kayu bakar. Untuk diameter cermin sebesar1,3 meter kompor
ini memberikan daya thermal sebesar 800 watt pada panci. Dengan menggunakan kompor
ini maka kebutuhan akan energi fosil dan energi listrik untuk memasak dapat
dikurangi.
6. Pengeringan Hasil Pertanian
Hal ini
biasanya dilakukan petani di desa-desa daerah tropis dengan menjemur hasil
panennya dibawah terik sinar matahari. Cara ini sangat menguntungkan bagi para
petani karena mereka tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mengeringkan hasil
panennya. Berbeda dengan petani di negara-negara empat musim yang harus
mengeluarkan biaya untuk mengeringkan hasil panennya dengan menggunakan oven yang
menggunakan bahan bakar fosil maupun menggunakan listrik.
7. Pemanasan Air
Penyediaan
air panas sangat diperlukan oleh masyarakat, baik untuk mandi maupun untuk alat
antiseptik pada rumah sakit dan klinik kesehatan. Penyediaan air panas ini
memerlukan biaya yang besar karena harus tersedia sewaktu-waktu dan biasanya
untuk memanaskan digunakan energi fosil ataupun energi listrik. Namun Dengan
menggunakan pemanas air tenaga surya maka hal ini bukan merupakan masalah
karena pemanasan air dilakukan dengan menyerap panas matahari dengan
menggunakan kolektor sehingga tidak memerlukan biaya bahan bakar.
Prinsip
kerjanya adalah panas dari matahari diterima oleh kolektor yang terdapat di
dalam terdapat pipa-pipa berisi air. Panas yang diterima kolektor akan diserap
oleh air yang berada di dalam pipa sehingga suhu air meningkat. Air dingin
dialirkan dari bawah sedangkan air panasnya dialirkan lewat atas karena massa
jenis air panas lebih kecil daripada massa jenis air dingin (prinsip
thermosipon). Air ini lalu masuk ke dalam penyimpan panas. Pada penyimpan
panas, panas dari air ini dipindahkan ke pipa berisi air yang lain yang
merupakan persediaan air untuk mandi/antiseptik.
Sedangkan
air yang berasal dari kolektor akan diputar kembali ke kolektor dengan
menggunakan pompa atau hanya menggunakan prinsip thermosipon. Persediaan air
panas akan disimpan di dalam tangki penyimpanan yang terbuat dari bahan
isolator thermal. Pada sistem ini terdapat pengontrol suhu jika suhu air panas
yang dihasilkan kurang dari yang diinginkan maka air akan dimasukkan kembali ke
tangki penyimpan panas untuk dipanaskan kembali.
Kolektor
yang digunakan pada pemanas air tenaga panas matahari ini adalah kolektor surya
plat datar yang bagian atasnya terbuat dari kaca yang berwarna hitam redup
sedangkan bagian bawahnya terbuat dari bahan isolator yang baik sehingga panas
yang terserap kolektor tidak terlepas ke lingkungan. Air panas di dalam
kolektor bisa mencapai 82 C sedangkan air panas yang dihasilkan tergantung
keinginan karena sistem dilengkapi pengontrol suhu.
8. Pembangkitan Listrik
Prinsipnya
hampir sama dengan pemanasan air hanya pada pembangkitan listrik, sinar
matahari diperkuat oleh kolektor pada suatu titik fokus untuk menghasilkan
panas yang sangat tinggi bahkan bisa mencapai suhu 3800 C. Pipa yang berisi air
dilewatkan tepat pada titik fokus sehingga panas tersebut diserap oleh air di
dalam pipa. Panas yang sangat besar ini dibutuhkan untuk mengubah fase cair air
di dalam pipa menjadi uap yang bertekanan tinggi. Uap bertekanan tinggi yang di
hasilkan ini kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin uap yang kemudian
akan memutar turbo generator untuk menghasilkan listrik.
Pemanfataan Energi Air
Air merupakan sumber energi yang murah dan relatif
mudah didapat, karena pada air tersimpan energi potensial (pada air jatuh) dan
energi kinetik (pada air mengalir). Tenaga air (Hydropower) adalah energi yang
diperoleh dari air yang mengalir. Energi yang dimiliki air dapat dimanfaatkan
dan digunakan dalam wujud energi mekanis maupun energi listrik. Pemanfaatan
energi air banyak dilakukan dengan menggunakan kincir air atau turbin air yang
memanfaatkan adanya suatu air terjun atau aliran air di sungai. Ada beberapa
tipe kincir air yaitu :
• Kincir Air Overshot
• Kincir Air Undershot
• Kincir Air Breastshot
• Kincir Air Tub
• Kincir Air Undershot
• Kincir Air Breastshot
• Kincir Air Tub
PLTA merubah energi yang disebabkan gaya jatuh air
untuk menghasilkan listrik. Turbin mengkonversi tenaga gerak jatuh air ke dalam
daya mekanik. Kemudian generator mengkonversi daya mekanik tersebut dari turbin
ke dalam tenaga elektrik. Jenis PLTA bermacam-macam, mulai yang berbentuk
“mikro-hidro” dengan kemampuan mensuplai untuk beberapa rumah saja sampai
berbentuk raksasa yang bisa menyuplai listrik dalam skala besar. Ditinjau dari
cara membendung air, PLTA dapat dibagi menjadi 2 kategori yaitu :
1)
PLTA run off river
2)
PLTA
dengan kolam tando (reservoir)
Pada PLTA run off river, air sungai
dialihkan dengan menggunankan dam yang dibangun memotong aliran sungai. Air
sungai ini kemudian disalurkan ke bangunan air PLTA. Daya yang dapat
dibangkitkan tergantung pada debit air sungai, tetapi PLTA run off river biaya
pembangunannya lebih murah dari pada PLTA dengan kolam tando (reservoir),
karena kolam tando memerlukan bendungan yang besar dan juga memerlukan daerah
genangan yang luas.
Pada PLTA dengan kolam tando (reservoir), air sungai dibendung dengan bendungan besar agar terjadi penimbunan air sehingga terjadi kolam tando. Selanjutnya air di kolam tando disalurkan ke bangunan air PLTA. Dengan adanya penimbunan air terlebih dahulu dalam kolam tando, maka pada musim hujan di mana debit air sungai besarnya melebihi kapasitas penyaluran air bangunan air PLTA, air dapat ditampung dalam kolam tando. Pada musim kemarau di mana debit air sungai lebih kecil daripada kapasitas penyaluran air bangunan air PLTA, selisih kekurangan air ini dapat diatasi dengan mengambil air dari timbunan air yang ada dalam kolam tando. Inilah keuntungan penggunaan kolam tando pada PLTA. Hal ini tidak dapat dilakukan pada PLTA run off river. Jika ada sungai yang mengalir keluar dari sebuah danau, maka dapat dibangun PLTA dengan menggunakan danau tersebut sebagai kolam tando.
PLTA yang paling konvensional mempunyai empat komponen utama sebagai berikut :
Pada PLTA dengan kolam tando (reservoir), air sungai dibendung dengan bendungan besar agar terjadi penimbunan air sehingga terjadi kolam tando. Selanjutnya air di kolam tando disalurkan ke bangunan air PLTA. Dengan adanya penimbunan air terlebih dahulu dalam kolam tando, maka pada musim hujan di mana debit air sungai besarnya melebihi kapasitas penyaluran air bangunan air PLTA, air dapat ditampung dalam kolam tando. Pada musim kemarau di mana debit air sungai lebih kecil daripada kapasitas penyaluran air bangunan air PLTA, selisih kekurangan air ini dapat diatasi dengan mengambil air dari timbunan air yang ada dalam kolam tando. Inilah keuntungan penggunaan kolam tando pada PLTA. Hal ini tidak dapat dilakukan pada PLTA run off river. Jika ada sungai yang mengalir keluar dari sebuah danau, maka dapat dibangun PLTA dengan menggunakan danau tersebut sebagai kolam tando.
PLTA yang paling konvensional mempunyai empat komponen utama sebagai berikut :
·
Bendungan, berfungsi menaikkan permukaan air
sungai untuk menciptakan tinggi jatuh air. Selain menyimpan air, bendungan juga
dibangun dengan tujuan untuk menyimpan energi.
·
Turbine,
gaya jatuh air yang mendorong baling-baling menyebabkan turbin berputar. Turbin
air kebanyakan seperti kincir angin, dengan menggantikan fungsi dorong angin
untuk memutar baling-baling digantikan air untuk memutar turbin. Selanjutnya
turbin merubah energi kenetik yang disebabkan gaya jatuh air menjadi energi
mekanik.
·
Generator, dihubungkan dengan turbin melalui
gigi-gigi putar sehingga ketika baling-baling turbin berputar maka generator
juga ikut berputar. Generator selanjutnya merubah energi mekanik dari turbin
menjadi energi elektrik. Generator di PLTA bekerja seperti halnya generator
pembangkit listrik lainnya.
·
Jalur Transmisi, berfungsi menyalurkan energi
listrik dari PLTA menuju rumah-rumah dan pusat industri.
Pembangkit listrik tenaga air pada dasarnya mengubah energi gerak menjadi arus listrik. Energi gerak tersebut dihasilkan melalui putaran roda kincir air yang bergerak dengan cara berputar mengikuti pergerakan arus air. Dari pergerakan kincir tersebut dihasilkan energi panas. Energi panas inilah yang kemudian diubah menjadi tenaga listrik yang kemudian disalurkan ke setiap pelanggan listrik ke rumah-rumah. Besarnya listrik yang dihasilkan oleh PLTA tergantung dua faktor yaitu,semakin tinggi suatu bendungan, semakin tinggi air jatuh maka semakin besar tanaga yang dihasilkan. Dan semakin banyak air yang jatuh maka turbin akan menghasilkan tenaga yang lebih banyak. Jumlah air yang tersedia tergantung kepada jumlah air yang mengalir disungai.
Pembangkit listrik tenaga air pada dasarnya mengubah energi gerak menjadi arus listrik. Energi gerak tersebut dihasilkan melalui putaran roda kincir air yang bergerak dengan cara berputar mengikuti pergerakan arus air. Dari pergerakan kincir tersebut dihasilkan energi panas. Energi panas inilah yang kemudian diubah menjadi tenaga listrik yang kemudian disalurkan ke setiap pelanggan listrik ke rumah-rumah. Besarnya listrik yang dihasilkan oleh PLTA tergantung dua faktor yaitu,semakin tinggi suatu bendungan, semakin tinggi air jatuh maka semakin besar tanaga yang dihasilkan. Dan semakin banyak air yang jatuh maka turbin akan menghasilkan tenaga yang lebih banyak. Jumlah air yang tersedia tergantung kepada jumlah air yang mengalir disungai.
Pemanfaatan Energi Angin
Konversi
Energi Angin
Alat
utamanya adalah generator, dengan generator tersebut maka dapat dihasilkan arus
listrik dari gerekan blade / baling-baling yang bergerak karena hembusan angin.
Pembangkit ini lebih effisien dari pada pembangkit listrik tenaga surya didalam
menghasilkan listriknya. Untuk menggerakan blade / baling-baling agar bisa
berputar saja harus memiliki kecepatan angin 2 meter/detik dan untuk
menghasilkan listrik yang stabil sesuai kapasitas generatornya rata-rata 6 s/d
10 meter/detik. Daerah yang cocok digunakan pembangkit ini adalah daerah
pantai, pesisir, pegunungan.
Turbin angin
Turbin Angin
adalah kincir angin yang digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik. Turbin
angin ini pada awalnya dibuat untuk mengakomodasi kebutuhan para petani dalam
melakukan penggilingan padi, keperluan irigasi, dll. Turbin angin terdahulu
banyak dibangun di Denmark, Belanda, dan negara-negara Eropa lainnya dan lebih
dikenal dengan Windmill.
Perhitungan
daya yang dapat dihasilkan oleh sebuah turbin angin dengan diameter kipas r
adalah :
dimana ρ
adalah kerapatan angin pada waktu tertentu dan v adalah kecepatan
angin pada waktu tertentu.
Umumnya daya
efektif yang dapat dipanen oleh sebuah turbin angin hanya sebesar 20%-30%. Jadi
rumus diatas dapat dikalikan dengan 0,2 atau 0,3 untuk mendapatkan hasil yang
cukup eksak. Prinsip dasar kerja dari turbin angin adalah mengubah energi
mekanis dari angin menjadi energi putar pada kincir, lalu putaran kincir
digunakan untuk memutar generator, yang akhirnya akan menghasilkan listrik.
Sebenarnya
prosesnya tidak semudah itu, karena terdapat berbagai macam sub-sistem yang
dapat meningkatkan safety dan efisiensi dari turbin angin, yaitu :
1. Gearbox
Alat ini
berfungsi untuk mengubah putaran rendah pada kincir menjadi putaran tinggi.
Biasanya Gearbox yang digunakan sekitar 1:60.
2. Brake
System
Digunakan
untuk menjaga putaran pada poros setelah gearbox agar bekerja pada titik aman
saat terdapat angin yang besar. Alat ini perlu dipasang karena generator
memiliki titik kerja aman dalam pengoperasiannya. Generator ini akan
menghasilkan energi listrik maksimal pada saat bekerja pada titik kerja yang
telah ditentukan. Kehadiran angin diluar diguaan akan menyebabkan putaran yang
cukup cepat pada poros generator, sehingga jika tidak diatasi maka putaran ini
dapat merusak generator. Rem cepat :
biasanya berada di poros cepat dekat generator, dapat difungsikan untuk
membatasi laju putar yang kelewat tinggi yang dapat merusak sistem generator. Rem lambat : biasanya berada di
depan gearbox dan dioperasikan secara manual, untuk menghentikan baling-baling
pada saat dilakukan maintenace.
3. Rotor
turbin
Berupa
baling-baling yang lazimnya terdiri atas 3 sirip, berfungsi untuk menangkap
energi angin menjadi energi mekanik putarannya. Permasalahan di bagian ini
adalah disain aerodinamis yang seefisien mungkin, serta ketahanan dan berat
bahan sirip baling-balingnya
4. Generator
Generator
dapat mengubah energi gerak menjadi energi listrik. Prinsip kerjanya dapat
dipelajari dengan menggunakan teori medan elektromagnetik. Singkatnya, (mengacu
pada salah satu cara kerja generator) poros pada generator dipasang dengan
material ferromagnetik permanen. Setelah itu disekeliling poros terdapat stator
yang bentuk fisisnya adalah kumparan-kumparan kawat yang membentuk loop. Ketika
poros generator mulai berputar maka akan terjadi perubahan fluks pada stator
yang akhirnya karena terjadi perubahan fluks ini akan dihasilkan tegangan dan
arus listrik tertentu. Tegangan dan arus listrik yang dihasilkan ini disalurkan
melalui kabel jaringan listrik untuk akhirnya digunakan oleh masyarakat.
Tegangan dan arus listrik yang dihasilkan oleh generator ini berupa
AC(alternating current) yang memiliki bentuk gelombang kurang lebih sinusoidal.
5. Penyimpan
energi
Karena
keterbatasan ketersediaan akan energi angin (tidak sepanjang hari angin akan
selalu tersedia) maka ketersediaan listrik pun tidak menentu. Oleh karena itu
digunakan alat penyimpan energi yang berfungsi sebagai back-up energi listrik.
Ketika beban penggunaan daya listrik masyarakat meningkat atau ketika kecepatan
angin suatu daerah sedang menurun, maka kebutuhan permintaan akan daya listrik
tidak dapat terpenuhi.
6.
Rectifier-Inverter
Rectifier
berarti penyearah. Rectifier dapat menyearahkan gelombang sinusodal(AC) yang
dihasilkan oleh generator menjadi gelombang DC. Inverter berarti pembalik.
7. Yaw
system
Sistem yang
mengatur posisi baling-baling agar tetap menghadap angin secara frontal,
sehingga baling-baling dapat menangkap energi angina seefisien mungkin.
8. Tower
penyangga
Menumpu seluruh berat komponen inti dan
penunjang cukup jauh di atas permukaan tanah.
Ilmu-ilmu
yang diperlukan adalah :
- Aerodinamika : untuk memahami perilaku udara bergerak, dan disain baling-baling yang efisien, serta sistem yaw yang diperlukan.
- Bahan engineering : untuk membuat bahan sirip baling-baling yang kuat dan ringan.
- Power electronics : untuk mendisain generator yang sesuai, serta teknik penyimpanan energi listrik sebagai output sistem. Atau penyesuaian output terhadap jaringan listrik PLN jika harus dilakukan transmisi keluar lokasi.
- Teknik kontrol : untuk mendisain sistem kontrol terhadap kecepatan turbin, atau kontrol terhadap daya generator.
- Teknik manufaktur : untuk mencetak baling-baling, membuat rumah (nacelle) seluruh komponen peralatannya.
- Ilmu-ilmu MIPA : Fisika (aerodinamika, mekanika), Statistika (sifat random angin), Matematika.
- Komputer : untuk kontrol saat operasi, dan simulasi eksperimen disain baru.
- Meteorologi : untuk mempelajari watak angin.
- Teknik sipil : untuk membangun tower yang tangguh dan mampu menyangga sistem secara fisik.
- Elektrokimia : untuk teknologi penyimpanan energi listrik dalam baterei.
Komentar
Posting Komentar